Melihat dari Dekat Pembelajaran Kartun di SMP 17

Pendiri Gold Pencil Jitet Koestana mendampingi siswa SMP Negerei Semarang menggambar kartun.
SMP 17 Semarang memiliki prestasi membanggakan, terutama di bidang seni kartun. Guru maupun siswanya pernah juara tingkat internasional. Seperti apa pola pembinaannya?

Ruang perpustakaan SMP Negeri Semarang tampak ramai tiap Rabu sore. Meski jam pelajaran telah usai, masih ada sejumlah anak yang berkegiatan. Mereka adalah peserta kegiatan ekstrakurikuler kartun.

Pada Rabu (17/1), SMP 17 kedatangan tamu istimewa. Yaitu Jitet Koestana, kartunis senior pemegang rekor MURI dengan penghargaan internasional terbanyak. Jitet mendampingi anak-anak belajar menggambar kartun. Ada sekitar 18 anak yang ikut serta.

Selain berbagi pengalaman teknis menggambar, Jitet menyampaikan tips memenangkan lomba kartun internasional. Ia mengajari bagaimana cara mengembangkan ide kartun.

Para peserta tampak asyik menggambar bersama.
Beberapa di antaranya didampingi orang tua karena masih belia. Chaquita (6) misalnya. Siswi kelas 1 SD Supriyadi Semarang itu ikut ekstrakurikuler kartun didampingi ibunya, Entik Nadhiroh.

Peserta ekstrakurikuler kartun SMP 17 tidak hanya dari kalangan SMP. Selain Chaquita ada beberapa anak lainnya yang berasal dari sekolah dasar. Mereka menggambar kartun bertema robot dan perdamaian yang akan dikirim ke lomba kartun internasional di Italia.

"Saya ikut sertakan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler ini karena melihat potensi yang cukup besar," kata Entik.

Dia mengatakan, sebelumnya Chaquita merupakan atlet sepatu roda tingkat nasional. Namun harus berhenti karena insiden yang mengakibatkan patah tulang. Entik lalu mengarahkan anaknya itu agar belajar menggambar. Kebetulan si anak suka.

"Saya berharap anak bisa berprestasi seperti siswa-siswi SMP Negeri 17 Semarang. Sepatu rodanya sudah saya lepas," kata warga Pedurungan itu.

Hannani Tri Sima Anjani (15) siswi kelas IX SMP 17 Semarang juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler kartun. Meski baru mengikuti pembinaan selama lebih kurang enam bulan, karya Hannani tampil sebagai finalis di sejumlah lomba tingkat internasional. Yang terbaru, karyanya bertajuk liburan masuk nominasi dalam International Tourism Cartoon Competition, Turki.

"Alhamdulillah, seneng bisa belajar kartun bersama teman-teman," katanya. 

Guru seni rupa SMP Negeri 17 Semarang, Suratno mengatakan, sejak dibuka pada awal tahun pelajaran 2017/2018 lalu, ekstrakurikuler kartun mendapat sambutan hangat dari siswa maupun orangtua. Kegiatan tersebut, menurutnya, tidak hanya mewadahi siswa di sekolahnya.

"Kami juga terbuka untuk siswa-siswi dari sekolah lain," katanya, Senin (29/1).

Ratno megungkapkan, Selain siswa SMP 17, saat ini ada sekitar sembilan anak dari SD maupun TK yang sudah bergabung. Bagi Ratno itu merupakan peluang yang baik untuk pengembangan kartun di Semarang.

"Anak-anak dibimbing menggambar kartun sejak belia. Sehingga kaderisasi kartun di Semarang berjalan baik," kata peraih penghargaan kartun Gold Prize Sicaco 2017 Korea itu.

Ekstrakurikuler kartun rupanya membuahkan hasil yang membanggakan bagi SMP 17.  Suratno mengatakan, pada akhir 2017 lalu anak didiknya bahkan pernah membukukan catatan fenomenal. Yaitu menjadi peserta terbanyak pada lomba kartun Humodeva 2017 di Rumania. SMP 17 mengirimkan karya 170 siswa dalam lomba ini.

Hal serupa juga dilakukan dalam meramaikan pameran Museum Humor Grafis Diogenes Taborda, Buenos Aires Argentina. Direktur museum, Jorge Omar Volpe Stessens bahkan merasa takjub. Jorge menyurati pihak sekolah via email. Dia ingin tahu seperti apa pembelajaran kartun di SMP 17.

Rasa ingin tahu itu bermula ketika pihak museum menerima sejumlah karya yang dikirimkan oleh guru seni rupa SMP 17, Suratno. Karya tersebut bertemakan tahun anjing dan tahun baru Imlek 2018 yang akan dipamerkan mulai Jumat 16 Februari 2018 mendatang di Buenos Aires itu.

Jorge mengapresiasi karya siswa SMP 17 dengan memajangnya sebagai sampul undangan pembukaan pameran. Tak hanya itu, undangan juga menyebutkan bahwa pameran itu menampilkan sebagian karya siswa SMP 17 dari Kota Semarang.  Ada Alfi, Dias, Grasella, Hananni, Ilham, Natasya, Nia, Sebina danTiti.

Gandeng Gold Pencil

Suratno mengungkapkan, pembinaan kartun di sekolahnya tak lepas dari peran Gold Pencil. Gold Pencil adalah lembaga baru yang bergerak dalam pengembangan dan kajian kartun di Semarang. Lembaga ini didirikan oleh Jitet Koestana, kartunis terbaik dunia versi Cartoon Home Network International (CHNI) tahun 2017. Suratno juga ikut terlibat dalam pendirian lembaga itu.

"Sesekali kami hadirkan Pak Jitet untuk berbagi pengalaman bersama anak-anak di sekolah. Alhamdulillah, mereka antusias belajar," kata Ratno.

Ratno mengatakan, masih banyak kekurangan yang dialami dalam pengembangan kartun di sekolahnya. Dia berencana akan menghadap Walikota Semarang untuk audiensi. "Saya dan Gold Pencil akan menghadap Pak Wali untuk membicarakan pengembangan kartun yang lebih serius di Kota Semarang," katanya. (Abdul Arif)