SMP Negeri 17 Semarang Kembangkan Batik Kartun

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Buyamin (kiri) saat meninjau stan pameran SMP Negeri 17 Semarang di gelaran Pazaar Seni 2017, Senin (23/10/2017).
SMP Negeri 17 Semarang baru saja  merilis karya siswa berupa batik kartun. Batik tersebut masih dalam tahap ujicoba. Hasilnya dipamerkan dalam agenda Pazaar Seni 2017 yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, 20-22 Oktober 2017.

"Uji coba batik kartun yang kami lakukan menggunakan motif karakter anak sekolah dan karikatur Jokowi.  Yang jelas pengunjung antusias bahkan ada yang mau beli.  Tapi karena ini masih uji coba jadi belum bisa," kata guru seni rupa SMP Negeri 17, Suratno yang juga penggagas batik kartun tersebut, Senin (23/10/2017).

Menurut Suratno, pengembangan batik kartun di sekolahnya berawal dari antusiasme anak didiknya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler kartun. beberapa di antara mereka bahkan ada yang masuk final kontes kartun internasional. 
"Dari situ ada pemikiran untuk bikin batik kartun," kata lelaki yang baru-baru ini juara lomba kartun dunia di Belgia tersebut.

Suratno menambahkan, di sekolahnya sebenarnya sudah ada pelatihan batik sejak lama.  Namun baru tahun ini pengembangan mengarah ke motif kartun. Gambar-gambar yang masuk final lomba internasional rencananaya akan dibuat desain batik. 

"Kami juga akan kembangkan menjadi industri kecil kalau koleksi motifnya sudah banyak," kata lelaki kelahiran Semarang 5 Juni 1963 itu.

Saat ini sekolah sedang melakukan ujicoba mengombinasikan motif kartun dengan latar belakang kontemporer. Suratno bersama pihak sekolah juga berencana mematenkan batik motif kartun hasil karya anak didiknya. 

Tak hanya itu, batik motif kartun juga akan dipakai untuk seragam khas sekolah. Ide itu muncul setelah ada masukan dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin.

Siswa kelas 7F SMP Negeri 17 Semarang, Mandarista Nurfandia Nila Krisna (13) merasa bangga ikut terlibat dalam pengembangan batik kartun sekolahnya. Manda mulai ikut pelatihan batik bulan ini. 

"Pengalaman pertama bikin batik senang bisa bisa menyalurkan hobi menggambar. Waktu latihan, saya diajari bikin motif batik karakter kartun dari huruf u, i, o dan c.  Ternyata menggambar di kain lebih susah daripada di kertas," katanya.

Siswa lainnya, Cahya satya larasati (12) juga terdorong ikut bergabung. Dia ikut ekstrakurikuler kartun karena melihat kakak kelasnya banyak yang masuk final lomba. Dia berharap, batik kartun bisa dijual dan terkenal. "Untuk melatih wirausaha sejak belia," katanya. (Abdul Arif)